Mengintip Wisata Sejarah di Pulau Penawar Rindu yang Sayang Jika Dilewatkan

0
123

BATAM – Batam memiliki banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Ada wisata religi, sejarah, kuliner, belanja, dan lain sebagainya.

Seperti di Kecamatan Belakang Padang, selain terkenal dengan wisata kulinernya, daerah ini juga memiliki wisata sejarah yang terletak di Pulau Tolop.

Jarak tempuh ke Pulau Tolop ini memakan waktu selama 30 menit melalui jalur laut dengan menggunakan pancung dari pelabuhan Sekupang.

Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan pulau yang cantik. Gedung-gedung di Singapura juga tampak jelas dari pulau ini.

Pulau ini sangat cantik bila diabadikan lewat kamera. Pengunjung bisa berswafoto dengan pemandangan gedung tinggi di Singapura, lengkap dengan warna lautnya yang biru.

Menariknya lagi, di pulau ini, ada sebuah makam yang tercatat dalam salah satu situs cagar budaya di Kota Batam.

Makam Syeh Syarif Ainun Naim Bin Maulana Ishaq namanya. Syeh yang dikenal dengan julukan Sunan Tulub ini lahir di Samudra Pasai, tahun 761 H. Ia wafat tahun 842 H / 1503 M.

Selain makam Sunan Thulub, juga terdapat beberapa objek wisata sejarah lainnya di Pulau Penawar Rindu itu. Kantor Polisi yang pembangunannya diperkirakan sekitar tahun 1930-an lalu misalnya.

Hal ini dapat dilihat dari Gedung Catur Sakti dan Asrama Border Police sekarang. Kemungkinan dulunya komplek bangunan ini dipergunakan sebagai Kantor Polisi Kolonial Belanda.

Lokasi ini merupakan komplek yang terdiri dari perkantoran dan perumahan polisi yang berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi.

Kemudian, ada juga kantor Imigrasi yang dibangun pada tahun 1950-an. Kantor ini dulunya hanya sebuah pos Imigrasi yang wilayah kerjanya berada di bawah naungan Kantor Imigrasi Tanjung Pinang.

Keberadaannya saat itu khusus diperuntukkan melayani penyelesaian keimigrasian bagi kapal masuk dan kapal ke luar negeri.

Berikutnya adalah Kantor Camat Belakang Padang. Kantor Camat ini secara historis memiliki kaitan erat dengan Pulau Batam. Dimana era 1959-1983, Kecamatan Batam beribukotakan Belakang Padang yang merupakan pindahan dari Pulau Buluh.

Di Pulau Penawar Rindu ini juga, ada Gedung Nasional yang berfungsi sebagai pusat pertemuan para unsur Muspida se-Kecamatan Belakang Padang pada masa lalu. Gedung ini diresmikan pada 12 Mei 1960.

Komplek Angkatan Laut Belakang Padang serta Komplek Perumahan Prajurit Angkatan Laut yang berada di Kampong Jawa, Belakang Padang terdiri dari empat unit bangunan tua yang dihuni warga setempat.

Bangunan ini dibuat pada tahun 1958 dan tidak mengalami pemugaran sama sekali. Itu terlihat dari bentuk dinding yang sudah retak dan dimakan rayap.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata mengatakan, Kota Batam memiliki banyak objek wisata yang menarik buat dikunjungi wisatawan.

“Wisata tersebut terletak di penjuru Kota Batam, salah satunya berada di Kecamatan Belakang Padang,” kata Ardi, Rabu (29/7).

Belakang Padang memiliki wisata sejarah yang menarik, dimana terdapat beberapa bangunan bersejarah yang menggambarkan tentang perjalanan Batam.

Bangunan-bangunan tersebut dikatakan mantan Kabag Humas Pemko Batam ini juga tercatat dalam cagar budaya Kota Batam.

“Saat ini Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam sedang mencatat ulang cagar-cagar budaya yang tersebar di Kota Batam,” katanya.

Menurutnya, tujuan dilakukan pendataan ulang ini supaya sejarah yang dimiliki tidak hilang ditelan zaman dan keberadaannya diketahui masyarakat Kota Batam.

“Upaya kita melestarikan cagar budaya untuk mengenalkan kekayaan cagar budaya yang kita miliki serta meningkatkan kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda kita dalam pelestarian warisan budaya,” kata dia.

Dari catatan Disbudpar, terdapat 21 cagar budaya di Kota Batam. Diantaranya Makam Nong Isa, Komplek Pemakaman Temenggung Abdul Jamal, Makam Tua Aceh, dan sebagainya.

“Kita (Disbudpar) akan terus berupaya untuk menemukan cagar budaya lainnya yang masih ada di Kota Batam,” pungkasnya. (ril)